Showing posts with label Budaya Pakpak. Show all posts
Showing posts with label Budaya Pakpak. Show all posts

Tuesday, May 5, 2009

Etnis/ Suku Pakpak Selayang Pandang

PENDAHULUAN
Etnis Pakpak berada di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Barat dan sebagian bertempat tinggal di Aceh Singkil (Boang) dan Tapanuli Utara/Tengah (Kelasen). Asal etnis Pakpak diperkirakan datang dari India melalui Barus atau Singkil dan menurut penelitian, tempat pertama orang Pakpak adalah Kuta Pinagar (Kecamatan Salak) keturunan dari si KADA dengan isterinya LONA. Kemudian lahir anaknya bernama si HIANG dengan turunannya 7 (tujuh) orang yaitu si HAJI (Banua Harhar) si RAJA PAKO (Sicike-cike, PUBADA (Aceh Singkil), RANGGARJODI (Buku Tinambunan), MBELLO (Silaan Rumerah), Sanggir (Kelasen/Taput) dan BATA (tidak diketahui kemana perginya).

Jumlah etnis Pakpak sekarang ini baik yang bertempat tinggal di Pakpak maupun di luar Pakpak lebih kurang 500.000 orang. Adapun dari masing-masing tersebut diatas adalah sbb:

a. Si Haji dengan keturunannya bermaga Padang, Brutu dan Solin.

b. Si Raja Pako tempat di Sicike-cike dengan keturunannya Marga Ujung Angkat, Bintang Capah, Sinamo, Kudadiri dan Gajah Manik (Si Pitu Marga)

c. Pubada dengan keturunannya Manik, Beringin, Tendang, Bunurea, Gajah, Siberasa.

d. Ranggar djodi

e. Mbello (Perbaju bigo) Menurut kisah telah tenggelam oleh suatu peristiwa.

f. SANGGIR dengan keturunannya Tumangger, Tinambunan, Anakampun, Meka, Mungkur, Pasi, Pinayungen.

STRUKTUR KEMASYARAKATAN
Masyarakat terdiri dari atas Marga-marga (65 marga) yang mendiami masing-masing kawasan hak tanah ulayat yang merupakan satu kesatuan dengan hidupnya dipimpin oleh Pertaki kemudian diatasnya adalah AUR yang dipimpin seorang Raja.

Struktur kemasyarakatan tersebut diletakkan pada SULANG SILIMA yang terdiri dari pada PRISANG-ISANG (Sukut) Pertualang tengah (Saudara-saudara tengah) PEREKUR-EKUR (Siampunan/bungsu) PERBETEKKEN (berru) dan PUNCA NDIADEP (Puang kula-kula). Pembagian status ini mempunyai peranan penting di dalam kemasyarakatan terutama berkaitan dengan status seseorang yang harus termasuk di dalam Sulang Silima tersebut. Pertaki mempunyai peranan yang sangat luas seperti pepatah mengatakan “Bana bilalang Bana birru, Bana ulubang bana guru” mempunyai kelebihan sebagai Panglima Perang, Raja Adat dan sebagai Guru yang menjadi suri teladan serta panutan bagi masyarakatnya.

SEMANGAT KEBANGSAAN DAN PATRIOTISME
Kalau kita telusuri lebih jauh maka etnis Pakpak menunjukkan tebalnya semangat kebangsaan dan kepatriotan. Etnis ini mempunyai sifat suka menerima hal-hal yang baru tanpa merusak nilai-nilai yang ada dan cepat mengantisipasi nilai-nilai luhur.

Di samping itu orang Pakpak mempunyai sifat terlalu cepat menyesuaikan diri, sehingga banyak yang terjadi sampai menukar marganya. Menguasai bahasa daerah lainnya sangat cepat sehingga rata-rata bisa menguasai bahasa-bahasa daerah di Indonesia ini, sehingga bahasanya sendiri ditinggalkan. Hal ini dipengaruhi oleh rasa nasionalisme yang tinggi dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi hal ini banyak dimanfaatkan oleh kelompok lain, sehingga padamnya jati diri orang Pakpak. Catatan-catatan buku-buku orientalis Barat juga menyebut orang Pakpak sebagai pemakan orang, namun pada hakekatnya yang dimakan adalah musuh-musuh dalam peperangan (mergraha) jadi bukan kaannibal seperti yang dituduhkan orang Barat tersebut.

Sifat kepatriotannya pun tetap terlihat pada waktu Perang Batak melawan Belanda. Daerah Pakpaklah tempat titik darah penghabisan perjuangan perlawanan Sisingamangaraja XII terhadap Belanda. Banyak panglima orang Pakpak, untuk melindunginya dalam melawan Belanda. Bahwa setelah Sisingamangaraja XII meninggal dunia, perjuangan melawan Belanda terus berlanjut dengan membentuk satuan-satuan gerilya yang disebut “Slimin” sampai tercapainya Kemerdekaan Republik Indonesia.

HUKUM ADAT TANAH
Tanah merupakan satu kesatuan dengan kehidupan masyarakat Pakpak atau menunjukkan identitas tentang keberadaan anggota masyarakat tersebut sehingga tanah menentukan hidup matinya masyarakat tersebut. Tanah dikuasai oleh marga sebagai pemilik ulayat tanah tersebut. Adapun bentuk-bentuk tanah sebagai berikut :
a. Tanah tidak diusahai, yaitu “Tanah Karangan Longo-longoon”, “Tanah Kayu Ntua”, “Tanah Talin Tua”, “Tanah Balik Batang” dan Rambah Keddep”.
b. Tanah yang diusahai yaitu “Tahuma Pargadongen”, “Perkenenjenen”, dan “Bungus”.
c. Tanah Perpulungen yaitu embal-embal, Jampalan, dan Jalangen.
d. Tanah Sembahen, yaitu tanah-tanah yang mempunyai sifat magis (keramat) terdiri dari tanah Sembahen Kuta (tidak dapat diperladangi) dan tanah Sembahen Balillon (dapat diperladangi).
e. Tanah Pendebaan yaitu tanah yang diperuntukkan bagai perkuburan.
f. Tanah Persediaan yaitu tanah cadangan dimana tanah ini tetap hak marga, tanah yang dijaga oleh Permangmang (kelompok tertua) dan tidak boleh diganggu.

Menyangkut pergeseran/pengalihan tanah tidak ada dalam hukum adat Pakpak, kecuali tanah Rading Beru (tanah yang diberikan kepada anak perempuan/menantu sepanjang masih dipakai) dan bila tidak dipakai lagi harus dikembalikan kepada kula-kulanya atau yang memberikan tanah rading berru.
Bila ada permasalahan mengenai pertanahan, penyelesaiannya diserahkan kepada Sulang Silima.

PERKAWINAN
Perkawinan dalam masyarakat Pakpak termasuk dalam siklus kehidupan seseorang yang telah diatur tersendiri. Hakekat perkawinan adalah membentuk keluarga untuk mengembang-biakkan keturunan dari kelompok marga, sehingga menjadi penerus kelompoknya. Oleh karena itu bila terjadi perkawinan, maka perkawinan itu melibatkan seluruh keluarga baik dekat maupun jauh. Jadi hakekatnya merupakan ikatan yang tidak ada putusputusnya.

Dalam masyarakat Pakpak dikenal bentuk perkawinan yaitu kawin resmi, kawin mengeke, kawin mengalih, kawin mengerampas, kawin menama dan kawin mencukung. Prosesi perkawinan dimulai dengan “mengeririt”, “mengkata utang” dan diakhiri dengan upacara pernikahan yang disebut merbayo. Didalam aturannya ditentukan bahwa tidak boleh kawin dengan semarga, setiap perkawinan harus diadati, terjadi penyesuaian tutur, perpantangan-perpantangan dan lain-lain.

Perlu pula diketahui bahwa apabila seseorang mengawini seorang wanita, maka ketentuan-ketentuan pemberian (unjuken) dari pihak laki-laki pada pihak perempuan, yang menerima unjuken adalah takal unjuken, upah Turang, Todoan, Togoh-togoh/penampati, upah puhun, upah mendedah, upah Empung dan Remmen-remmen Juluan Tapiin. Sedangkan Oles (kain) yang diserahkan adalah oles Inang ni beru, oles inang peduaken, oles turang ni beru, oles puhun, oles mendedah, oles empung, oles persinabul, oles penelangkeen dan oles persintabiin.

Perlu dicatat bahwa Tokor Berru (pemberian pihak laki-laki) bisa berbentuk mas, kerbau dan lain-lain setiap pemberian harus dibalas pula oleh pihak perempuan dalam bentuk yang telah ditentukan oleh Pengetuai.

KEPERCAYAAN
Pada saat ini masyarakat Pakpak telah memeluk Agama Islam dan Kristen, walaupun sebelumnya sangat kuat terhadap kepercayaan animisme (pelebegu) namun hal ini menunjukkan perobahan yang sangat cepat atas kepercayaan ini, walaupun masih ada kepercayaan-kepercayaan tertentu. Toleransi antara pemeluk Agama tersebut, tinggi karena diikat oleh kekeluargaan.

PAKAIAN
Pakaian sehari-hari pada umumnya saat ini telah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tetapi untuk acara adat mempunyai bentuk tersendiri yaitu :
a. Laki-laki:
Adapun pakaian yang dikenakan dalam acara adat oleh laki-laki adalah Oles, bulang-bulang, golok ucang, borgot, tali abak dan kujur sinane.
b. Perempuan:
Pakaian khas adat bagi wanita adalah: Baju merapi-api, oles, saong, cimata leppa-leppa, rabimunduk dan ucang.

MAKANAN
Adapun makanan khas adat Pakpak adalah sebagai berikut:
a. Pelleng, yaitu suatu makanan khas yang diperuntukkan bagi mereka untuk pergi berperang (mergerraha) atau untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam mencapai suatu tujuan tertentu.
b. Nditak, yaitu sejenis makanan diperuntukkan bagi seseorang supaya “ulangkengngalen” (patah ditengah) dalam suatu usaha.
c. Nakan Pagit yaitu makan yang diberikan kepada seorang wanita yang sedang hamil.
d. Nakan Nggersing yaitu makanan untuk orang yang meminta agar jangan sakit-sakitan atau sesuatu yang dapat memenuhi maksud, dan
e. Nakan Pengambat yaitu makanan yang diberikan oleh familinya kepada orang yang sedang sakit keras.

RUMAH ADAT
Bentuk rumah Pakpak mempunyai ciri tersendiri yaitu atapnya berbentuk melengkung (ndenggal). Hal ini diumpamakan “petarik-tarik mparas igongken ndenggal” artinya berani memikul resiko apabila sesuatu sudah dikerjakan dan berani mempertahankan sesuatu yang telah diperbuat.

Rumat adat mempunyai fungsi sebagai tempat musyawarah mengenai masalah-masalah kemasyarakatan dan merupakan tempat alat-alat kesenian, sedangkan untuk tempat anak muda serta tamu disediakan rumah tersendiri yang disebut “Bale” dan untuk rapat-rapat biasa dan tempat latihan-latihan kesenian, sedangkan untuk musyawarah dalam bentuk besar dipakai “Kerunggun”.

ALAT KESENIAN
Masyarakat Pakpak mempunyai alat kesenian yang dipelihara sejak nenek moyang yang terdiri dari : Gerantung (tidak terdapat didaerah-daerah lain) Gung, Kalondang, Sarune, Sordam, Kucapi, Genggong, Genderang (sembilan buah) dan lain-lain. Alat kesenian ini bisa milik perorangan dan juga milik bersama.

AKSARA DAN BAHASA
Etnis Pakpak sejak dahulu telah mempunyai aksara yang tertulis dalam buku yang disebut “LAPIHEN”. Dalam buku Lapihen ini terhimpun bermacam-macam catatan dalam bentuk mantera-mantera, religius dan lain-lain dalam bahasa daerah Pakpak. Bahasa ini masih tetap dipakai sebagai bahasa sehari-hari.

GOTONG ROYONG
Sifat gotong royong masih terpelihara di dalam masyarakat Pakpak. Hal ini tercermin dalam kehidupan bersama sehari-hari. Hal ini diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
a. Rimpah-rimpah yaitu suatu bentuk kerja sama dalam bertanam padi dan lainnya, pelaksanaannya diawali dengan cara “merkua” yaitu dengan terlebih dahulu memberitahukan secara satu persatu keluarga masyarakat agar dapat bersama-sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, misalnya “mardang” (menanam padi).
b. Urup-urupen yaitu suatu kerja sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan beberapa keluarga sehingga pekerjaan selesai. Misalnya suatu keluarga mengajak satu keluarga lainnya untuk bersama-sama mengerjakan ladangnya.

PENUTUP
Demikianlah selayang pandang tentang masyarakat Pakpak baik zaman dahulu maupun sekarang sebagai pengenalan bagi mereka yang belum kenal sehingga dapat menjadi bahan pengetahuan.

Penulis : Bpk. H Kadim Brutu SH (Alm.), seorang Tokoh dan sesepuh masyarakat Pakpak

Thursday, May 8, 2008

Cerita Rakyat - Nantampuk Emmas Mela Merinang

Arnia lot mo sada daholi anak perana, ukum ulanna pellin merburu ngo. I sada tikki roh mo udan toko nderasna. Laus mo anak perana en mi delleng lako merburu wangkah, I embah mo kujurna. Molo laus ia merburu terusen ngo merembah hasil mi kutana, marang pe mi sapona.

Tapi tupung i ari udan, laus mo ia dekket mersurak-surak kennah lot dapetten hasil. I embah mo kujurna mernangen mo ia menengen sada asar wangkah si enggo ndekkah oda terpakke. Enggo kessa naing iambongken anak perana ndai kujurna, I begemo sora ibagas asar I nai. “Tole siko nange”. Heran ngo anak perana idi, memege sora si roh ipas asar i nai.

Anak perana pemburu ndai pe laus mengintip mi bagas asar idi. I idah ia mo sada simerbaju mberu dekket sada kessuk. Kessuk en kelleng kalohon ngo atena mi daberru en, karna Kessuk en ngo inang si merbaju i. Nai iberanikan anak perana ndai mo dirina menjumpai simerbaju I, kerna mberru ngo si merbaju i.

Masuk mo ia ia mi asar i, nina mo mendahi simerbaju i, “sentabi turang, aku si Haji ngo, ise ngo ndia ke, janah merkade kene isen?”. Tersenget mo simerbaju i, itengen ia mo anak perana si roh mendahi ia. I jawab simerbaju I mo kuso-kuso anak perana ndai “Gelarku Nantampuk Emas ngo, janah en sapoku ngo”.

Singkat ni cerita, enggo kessa piga-piga dekkah mengeranai si Haji mendahi si Nantampuk emas, i dokken si Haji mo asa Nantampuk emas mahan perukat nakkanna. I ueken Nantampuk Emas ngo pengidoen si Haji. l embah si Haji mo Nantampuk mas mulak mi kuta, I tadingken Nantampuk mas mo inangna I asar idi, kumerna mela ngo Nantampuk mas kibagahkan mendahi si Haji, Mela Kessuk si rebbak dekket Nantampuk emas I inangna ngo.

Tapi tong ngo I ekutken si Kesuk idi kalak I sidua ipodi nai, ninganna menangen mo ia : “Tulihken aku tulihken berru ni, upah menggeluhi dedek ni inangna”. Oda ngo laju i tulihken Nantampuk Emas inang nai. I pakulah mo oda ibege sora nangen inangna ndaboi. Nai roh mo si Haji nina mo ” Sora ise ngo si mernangen i?” “Eta mo merdalan, unang pella begeken sora i”, nina Nantampuk Emas.

Oda piga dekkah soh mo kalak ini mi kuta, mi sapo si Haji. I cekep Nantampuk Emas ngo tong rahasia ni inang na I, janah oda ngo pernah ibagahken ia ise ngo inangna situhunna. I pergeluhen ni rumah tangga si Haji dekket Nantampuk Emas soh mo mendena. Si Kesuk, inang ni Nantampuk Emas engket mo tong mi sapo si Haji I bekkas mberruna tading, janah bekasna I tongkarang bages ni dukak ni ngo ia. Mella lot koling galuh tading I dabuhken Nantampuk Emas I lubang-lubang I naim, Imo panganenna.

Oda piga dekkah tubuh mo si kedek-kedek kalak en. Ukum Karejo si Haji tong ngo laus merburu mi delleng. Enggo kessa laus si Haji merburu mi delleng isuruh Nantampuk Emas mo inangna (Kesuk) mi bagas, lako menjaga dukak na I, ala naing mi lae ngo Nantampuk Emas. Masuk ngo inangna ndai mi bagas, nina mo “Lako mo ndor, asa ndor ko nahen balik”. Laus mo Nantampuk Emas mi lae.

Sinderrang I lae deng Nantampuk Emas, menter roh mo si Haji i delleng nai, janah tersenget mo ia, I idah ia mo dukakna itempi Kesuk. I tarik mo dukak na I, iabingen Kesuk I nai, janah ibuat ia mo kayu, i palu mo Kesuk ndai janah mate mo Kesuk I, I ambongken mo bangke Kesuk i gembar sapo na.

Mulak mo Nantampuk Emas I lae nai, I idah mo bangke ni inang na igembar sapo nai. Tangis mo ia, ninganna ikuburken ia mo inangna I gembar sapo kalak i, I idah si Haji mo pengelako ni perukat nakan na I, janah ibettoh ia mo ukum Kesuk si ni pateken na I, imo simatuana, Inang ni Nantampuk Emas.

Isuruh si Haji mo Nantampuk Emas mengkurak perdeban ni simatuana I, janah i palu mo genderang ibagahken mo mi aur I, enggo mate inang ni Nantampuk Emas. Mela ngo perasaan ni Nantampuk Emas, mella ibettoh deban nahan inangna oda jelma, tapi Kesuk ngo.

I bain si Haji mo akkal-akkal, I tutup mo si Haji mo bangke simatuana I dekket abit kapal kalohon. Oda mo ibettoh deba Kesuk ngo si mate I,oda ngo jelma. Tangis mo kalak iduana, merohen mo pengisi aur I lako menongger simatua ni si Haji. Roh ngo penyesalan I ukur ni Nantampuk Emas, Baku ne pe keppe merohana inangku kin, I ma ngo asa inang, oda ngo penagamen, na ukum daholi na ndai bagi bagi ngo burju na.


Sumber : “Kumpulan Cerita Rakyat Pakpak”, Sada Ahmo,Sidikalang-2002
(Editor : Sonti Banurea, Muda Banurea, Dina Lumbantobing)